UM Rebranding Wisma Ringgit Jadi Hotel Bachtiar, Optimalkan Aset untuk Pendidikan
Universitas Negeri Malang (UM) menutup tahun 2025 dengan melakukan rebranding Wisma Ringgit menjadi Wisma Prof. H.S. Adam Bachtiar, yang akan dikenal sebagai Hotel Bachtiar. Langkah ini diambil sebagai komitmen UM untuk mengoptimalkan aset dan meningkatkan pendapatan demi menunjang kualitas pendidikan.
Penghormatan untuk Rektor Pertama UM
Peresmian Hotel Bachtiar dilakukan bersamaan dengan acara Refleksi Akhir Tahun 2025 di lokasi wisma, Jalan T.G.P. No. 7, Kota Malang, Selasa (30/12/2025). Wakil Rektor II UM, Prof. Dr. Puji Handayati, menjelaskan bahwa perubahan nama ini adalah bentuk penghormatan kepada Rektor Pertama UM, Prof. H.S. Adam Bachtiar.
“Dulu namanya Wisma Ringgit, sekarang kita ganti menjadi Wisma Adam Bachtiar. Ini adalah penghormatan bagi rektor pertama kita. Perubahan ini juga dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan dan fasilitas secara menyeluruh,” ujar Prof. Puji.
Renovasi dan Fasilitas Modern
Prof. Puji menjelaskan bahwa desain interior dan eksterior wisma akan dikerjakan mulai Januari hingga Maret 2026. Targetnya, renovasi selesai pada April 2026, dan Hotel Bachtiar siap beroperasi penuh dengan wajah baru.
Standar Hotel Modern
Wisma ini dirancang dengan standar perhotelan modern, meliputi 32 kamar tidur, ruang pertemuan, kafetaria atau restoran, Wi-Fi berkecepatan tinggi, dan water heater di setiap kamar.
Urgensi Hotel Bachtiar bagi UM
Keberadaan Hotel Bachtiar diharapkan dapat mengatasi kendala logistik yang selama ini dihadapi UM saat menerima tamu penting, seperti dosen praktisi, Visiting Professor, dan penguji eksternal.
“Seringkali kita kesulitan menempatkan beliau-beliau, sehingga harus bekerja sama dengan berbagai hotel di Malang. Dengan keberadaan Wisma Adam Bachtiar ini, harapannya kebutuhan internal tersebut bisa terpenuhi secara mandiri,” jelasnya.
Terbuka untuk Umum dengan Harga Kompetitif
Selain melayani kebutuhan internal, Hotel Bachtiar juga akan dibuka untuk masyarakat umum. Lokasinya yang strategis di kawasan Jalan Ijen menjadi nilai jual utama. Prof. Puji yakin hotel ini mampu bersaing dengan hotel bintang tiga di sekitarnya dengan strategi harga yang kompetitif.
“Harganya pasti jauh lebih murah dibandingkan hotel bintang tiga, namun dengan fasilitas yang setara. Ini juga bisa menjadi opsi terjangkau bagi mahasiswa S3 yang mungkin kuliahnya tidak sepadat S1 namun membutuhkan tempat tinggal sementara yang nyaman dan tenang,” tambahnya.
Skema Pengelolaan yang Efisien
UM tengah menggodok skema manajemen yang efisien untuk Hotel Bachtiar, antara swakelola penuh atau berkolaborasi dengan pihak ketiga profesional. Tujuannya adalah menjadikan aset ini sebagai sumber pendapatan yang signifikan bagi universitas.
Integritas dan Penguatan Intelektualitas
Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, menekankan pentingnya integritas dalam pengelolaan aset ini. Ia menegaskan bahwa kebijakan universitas harus bermuara pada penguatan ekosistem intelektualitas dan moralitas.
Rektor mengingatkan bahwa transformasi aset menjadi unit bisnis tidak boleh menghilangkan jati diri UM sebagai lembaga pendidikan. Ia mendorong audit internal yang ketat dan pengelolaan profesional agar keuntungan berdampak pada mahasiswa.
“Pengelolaan aset yang profesional dan berintegritas itu penting. Jika aset-aset ini mampu menghasilkan pendapatan mandiri yang besar, imbasnya adalah kita bisa menekan biaya pendidikan agar tetap terjangkau bagi mahasiswa, tanpa mengurangi kualitas layanan akademik,” tegas Prof. Hariyono.
Capaian Pembangunan Fisik UM
Peresmian Hotel Bachtiar melengkapi capaian pembangunan fisik UM di akhir tahun 2025. Sebelumnya, UM juga meresmikan fasilitas UMAT (UM Mart & Food Court) berkapasitas 600 orang serta gedung baru TK Laboratorium UM di Kota Malang dan Blitar.
“Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini. Evaluasi berkelanjutan adalah kunci bagi UM untuk terus bertumbuh menjadi universitas unggul dan menjadi rujukan,” pungkas Rektor sebelum melakukan prosesi pemotongan tumpeng dan pita.
Refleksi Akhir Tahun dan Muhasabah
Acara peresmian diawali dengan istighosah dan doa bersama yang dipimpin oleh Dr. Drs. Mohammad Qusyairi. Suasana spiritual dibangun sebagai pijakan refleksi institusional atas capaian sepanjang tahun 2025.
Siraman Rohani dan Evaluasi Diri
Acara ditutup dengan siraman rohani dan refleksi akhir tahun oleh Dr. KH. Dahlan Tamrin. Ia mengajak sivitas akademika UM untuk memaknai pergantian tahun dengan muhasabah (evaluasi diri) yang mendalam.
Dalam tausiyahnya, Kiai Dahlan menekankan bahwa muhasabah harus menjadi praktik harian untuk menjaga dinamika spiritual dan etika kerja.
“Prinsipnya, kalau kita ingin tahun depan menjadi lebih baik, harus melalui satu proses namanya muhasabah atau evaluasi diri. Istighfar itu bukan hanya untuk menghapus dosa, tetapi upaya menyempurnakan amalan kita yang mungkin masih cacat,” tutur Kiai Dahlan.
Ia juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual. Integritas moral adalah fondasi yang menjaga agar ilmu pengetahuan tetap membawa kemaslahatan.
“Keseimbangan ini penting. Kecerdasan otak tanpa hati bisa berbahaya, sebaliknya hati tanpa ilmu bisa tersesat. Mari jadikan muhasabah sebagai kebiasaan harian untuk membawa UM menjadi lebih baik,” tutupnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow