Satire Akhir Tahun: Kabinet Odong-Odong, Hiburan Murah di Tengah Kesulitan Ekonomi

Satire Akhir Tahun: Kabinet Odong-Odong, Hiburan Murah di Tengah Kesulitan Ekonomi

Smallest Font
Largest Font

Menjelang Tahun Baru 2026, Bali tidak seramai tahun sebelumnya, mencerminkan kondisi ekonomi yang lesu. Sebuah esai satire menarik paralel antara fenomena sosial ini dengan dinamika kabinet pemerintahan, yang sibuk menjaga citra di tengah kondisi yang sulit.

Refleksi Ekonomi Akhir Tahun: Bali dan 'Kabinet Odong-Odong'

Suasana sendu meliputi para pelaku usaha kecil di Bali, dari pemilik depot hingga pemandu wisata. Mereka merasakan beratnya situasi ekonomi, sebuah ironi yang digambarkan dalam esai ini sebagai cerminan dari pemerintahan yang sedang berupaya menjaga citra.

Artikel ini menggunakan metafora "Kabinet Odong-Odong" untuk menggambarkan pemerintahan yang seolah memberikan hiburan di tengah masalah yang mendalam. Seperti odong-odong yang menawarkan fantasi murah, kabinet ini dinilai hanya memberikan janji-janji tanpa реаlіsаsі yang signifikan.

Odong-Odong: Antara Fantasi Murah dan Realitas Pahit

Odong-odong menjadi simbol harapan palsu bagi masyarakat berpenghasilan pas-pasan. Mereka menawarkan ilusi terbang ke angkasa, padahal hanya berputar-putar di atas aspal yang retak.

Analogi ini menggambarkan bagaimana pemerintahan seringkali tampil dengan "kosmetik" politik, seperti program-program megah dan jargon futuristik, untuk menutupi masalah mendasar yang ada.

Meriah di Luar, Kosong di Dalam

Seperti odong-odong yang dihiasi lampu neon untuk menutupi karat, kabinet sering tampil dengan "kosmetik" politik yang luar biasa. Nama program megah dan janji manis berfungsi layaknya ukiran kuda kayu yang cerah.

'Musik Keras' dan Narasi Keberhasilan yang Semu

Odong-odong memutar musik keras untuk menutupi suara tangis anak atau derit mesin. Begitu pula, pemerintah menggunakan narasi keberhasilan dan angka statistik untuk menutupi keluhan warga tentang harga kebutuhan pokok dan sulitnya mencari pekerjaan.

"Musik" serupa dimainkan kabinet dalam bentuk narasi keberhasilan dan angka statistik yang diputar berulang-ulang melalui media sosial. Keluhan warga tentang harga beras yang mencekik dan sulitnya mencari kerja dianggap angin lalu.

Narasi keberhasilan dan angka statistik yang diputar berulang-ulang melalui media sosial dianalogikan sebagai musik keras yang menutupi keluhan masyarakat.

Kebijakan yang Berputar di Tempat

Seperti odong-odong yang hanya berputar-putar, kebijakan pemerintah seringkali hanya memberikan ilusi pergerakan. Rapat koordinasi diadakan, anggaran digelontorkan, namun masalah kemiskinan dan korupsi tetap ada.

Rapat koordinasi diadakan berkali-kali, anggaran digelontorkan, dan semua orang tampak sibuk bekerja. Namun, setelah satu putaran berakhir, masalah kemiskinan tetap di sana, korupsi masih di tempat semula dan makin banyak.

Ilusi Pergerakan Tanpa Hasil Nyata

Kebijakan-kebijakan tertentu dianalogikan dengan putaran odong-odong yang memberikan ilusi pergerakan, padahal masalah mendasar seperti kemiskinan dan korupsi tetap ada.

Kabinet Odong-Odong: Tanpa Empati dan Rasa

Odong-odong tetap melaju di tengah kemacetan dan debu jalanan, tanpa empati terhadap masyarakat yang berjuang. Kabinet odong-odong juga beroperasi dengan logika yang sama, melaju dengan agenda-agenda besar tanpa mempedulikan kesulitan rakyat.

Di saat ekonomi rakyat sedang "pas-pasan", kabinet tetap melaju dengan agenda-agenda besarnya yang kadang terasa asing bagi perut yang lapar. Ia melaju tanpa rasa, menganggap protes sebagai bising knalpot, dan menganggap kritik sebagai gangguan bagi kenyamanan penumpang VIP di atasnya.

Sang Sopir dan Rel Tersembunyi Kekuasaan

Sang sopir odong-odong adalah kunci dari seluruh pertunjukan ini. Ia harus memastikan musik tetap keras, lampu tetap menyala, dan penumpang tetap merasa "aman".

Sopir odong-odong pemerintahan adalah ahli mekanik yang ajaib. Ia harus bisa menyatukan berbagai onderdil yang tidak sinkron mulai dari knalpot yang suka berasap (politisi vokal), hingga ban yang sudah gundul (pejabat bermasalah).

Namun, kendali sopir sangat terbatas karena odong-odong memiliki rel tersembunyi: rel kepentingan oligarki, rel inersia birokrasi, dan rel yang sudah bengkok oleh proyek masa lalu.

Ketika ada batu penghalang (krisis), sang sopir hanya menarik rem dan banting stir sedikit (kebijakan darurat), memutar menghindari, lalu kembali ke lintasan utama. Ia tak pernah berhenti untuk membongkar batu itu.

Refleksi Akhir Tahun: Mau Dibawa ke Mana?

Esai ini mengajak pembaca untuk merenungkan arah pembangunan bangsa. Apakah kita hanya akan terus berputar-putar seperti odong-odong, atau mampu mencapai tujuan yang реаl?

Kabinet Odong-Odong adalah tontonan satire terbaik negeri ini: mewah secara visual, ramai secara suara, tetapi kosong secara arah.

Para pahlawan dan pejuang kemerdekaan dan pendiri negara menangis, bukan seperti itu (odong-odong) yang mereka perjuangkan dan impikan. Tetapi masalah beratnya adalah penguasa odong-odong saat ini merasa yakin bahwa mereka adalah pejuang sejati, bahkan pahlawan pengisi kemerdekaan yang hebat dan patut dipuji.

Selamat memasuki tahun baru 2026.

Hadipras,Pengamat Sosial dan Politik.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow