Mahasiswa UMM Gali Ilmu Pertanian di Thailand, Siap Terapkan di Indonesia
- Pertukaran Pelajar di Kasetsart University
- Pengalaman Berharga di Lingkungan Internasional
- Studi ke National Corn and Sorghum Research Center (Suwan Farm)
- Kerja Sama dengan CIMMYT dan Hilirisasi Produk
- Mempelajari Rantai Pasok Komoditas
- Adaptasi dengan Makanan Halal
- Komitmen untuk Mengembangkan Agribisnis di Indonesia
Malang – Pengalaman global menjadi modal penting bagi lulusan yang berdaya saing. Akhmad Murtadho, mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), membuktikan hal ini dengan menimba ilmu di Kasetsart University, Bangkok, Thailand, selama lima bulan melalui program pertukaran pelajar untuk mendalami teknologi pertanian.
Pertukaran Pelajar di Kasetsart University
Terhitung sejak Juli hingga Desember 2025, Dodo, sapaan akrab Akhmad Murtadho, berkesempatan belajar di salah satu pusat riset terkemuka di Asia Tenggara. Ia terjun langsung ke lapangan untuk mendalami teknologi pertanian.
Pengalaman Berharga di Lingkungan Internasional
Dodo merasakan atmosfer kelas yang inklusif dan internasional. Ia belajar bersama mahasiswa dari berbagai negara dengan latar belakang budaya yang beragam. Bahasa Inggris sebagai pengantar utama perkuliahan meningkatkan kemampuan komunikasinya.
“Di satu kelas itu mahasiswanya campur internasional. Jadi serunya, kami bisa saling berbagi budaya dari daerah masing-masing. Program ini sangat cocok untuk mahasiswa yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris sekaligus membangun relasi lintas negara,” ujar Dodo pada beritajatim.com, Selasa (30/12/2025).
Studi ke National Corn and Sorghum Research Center (Suwan Farm)
Salah satu momen penting dalam perjalanan akademik Dodo adalah kunjungan studi ke National Corn and Sorghum Research Center, atau Suwan Farm, di Pak Chong, Provinsi Nakhon Ratchasima.
Inovasi Pertanian Thailand
Suwan Farm merupakan laboratorium alam tempat lahirnya inovasi pertanian Thailand. Di sana, Dodo mempelajari pemuliaan tanaman, khususnya pengembangan varietas jagung unggulan ‘Suwan 1’.
Varietas Jagung Unggulan 'Suwan 1'
Varietas ‘Suwan 1’ tahan terhadap penyakit downy mildew (bulai) dan telah menjadi andalan pertanian Thailand sejak era 1970-an.
“Suwan Farm itu bukan sekadar kebun, tapi pusat riset. Kami belajar bagaimana varietas jagung dikembangkan dari berbagai negara dan diuji ketahanannya terhadap penyakit,” jelasnya.
Kerja Sama dengan CIMMYT dan Hilirisasi Produk
Pusat riset ini bekerja sama dengan CIMMYT (International Maize and Wheat Improvement Center) dan melakukan hilirisasi produk, seperti produksi susu jagung UHT. Dodo mencatat bahwa Suwan Farm tetap berorientasi pada riset intensif, bukan hanya komersialisasi massal.
Mempelajari Rantai Pasok Komoditas
Selain jagung, Dodo juga mempelajari rantai pasok komoditas lain seperti karet dan kelapa, dari hulu hingga hilir.
Adaptasi dengan Makanan Halal
Sebagai seorang muslim, Dodo harus beradaptasi dengan akses makanan halal di Thailand.
“Soal makanan memang perlu penyesuaian. Tapi secara keseluruhan, hidup dan belajar di sana tetap menyenangkan dan memberi banyak pelajaran berharga,” ungkapnya.
Komitmen untuk Mengembangkan Agribisnis di Indonesia
Dodo berkomitmen untuk membawa pulang ilmu yang didapat dan berencana mengadaptasi pendekatan riset dan teknologi yang dipelajarinya di Thailand untuk diterapkan dalam konteks agribisnis di Indonesia.
Penerapan Riset Pertanian di Indonesia
“Apa yang saya pelajari di sana ingin saya terapkan di Indonesia, terutama soal metodologi riset pertanian dan bagaimana cara efektif menghubungkan teori akademik dengan praktik nyata di lapangan,” pungkas Dodo.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow