Rayakan Tahun Baru, Pemuda Tuban Gelar Kolaborasi Budaya Jepang-Indonesia

Rayakan Tahun Baru, Pemuda Tuban Gelar Kolaborasi Budaya Jepang-Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Mengawali Tahun Baru 2026 dengan cara yang unik, sejumlah pemuda Desa Kenanti, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, menggelar pertunjukan seni teatrikal bertajuk Soundtoloyo yang memadukan budaya Jepang dan Indonesia dengan sentuhan musik eksperimental. Gelaran ini menjadi alternatif perayaan tahun baru yang sarat makna budaya dan spiritual.

Kolaborasi Budaya Jepang-Indonesia di Soundtoloyo

Pertunjukan seni Soundtoloyo yang diadakan di Shankara Tuban ini menawarkan perayaan tahun baru yang berbeda, jauh dari hingar bingar kembang api dan terompet. Sebaliknya, para seniman mengajak penonton untuk merenung melalui karya seni yang kaya akan nilai budaya dan spiritual.

Sakana-Kani: Pembuka Pertunjukan yang Memukau

Pertunjukan dibuka dengan penampilan Sakana-Kani, sebuah kolaborasi seni Jepang-Indonesia. Kolaborasi ini menggabungkan musik eksperimental dengan ritual minum teh khas Jepang, Chanoyu Matcha, serta ekspresi tradisi Indonesia. Persembahan ini dibawakan oleh Toyol Dolanan Nuklir (Tuban, Indonesia) dan Yukari Ono (Kyoto, Jepang).

Filosofi di Balik Kolaborasi Sakana-Kani

Seniman yang akrab disapa Toyol, atau Khafid Fadli, mengungkapkan bahwa pertunjukan ini menggabungkan kostum tradisional Indonesia, seperti udeng Tengger Bromo dan busana Toraja. Sementara itu, Yukari mengenakan kimono khas Jepang yang dipadukan dengan ritual upacara teh dan nyanyian.

“Alat musik yang kami gunakan merupakan hasil karya sendiri, terinspirasi dari alat musik Biwa dari Jepang dan Gambus. Cara memainkannya dipetik,” ujar Toyol, Kamis (1/1/2026).

Tahlilan ala Jepang: Penghormatan untuk Sen no Rikyu

Uniknya, ritual upacara teh dikemas menyerupai tahlilan, sebagai bentuk doa bersama untuk Sen no Rikyu, tokoh penting Jepang yang menyerukan kesetaraan manusia melalui filosofi teh. Toyol menjelaskan bahwa Sen no Rikyu akhirnya melakukan seppuku demi melindungi pengikutnya karena pandangan politiknya yang bertentangan dengan penguasa saat itu.

“Melalui tatanan panggung yang sejajar dengan penonton, kami ingin menyampaikan pesan bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang setara dalam mengekspresikan pandangan dan sikap politiknya,” jelasnya.

Simbolisme Nama Sakana-Kani

Dalam bahasa Jepang, Sakana berarti ikan dan Kani berarti kepiting. Toyol yang lahir pada tanggal 15 merepresentasikan unsur air sebagai simbol kebebasan dan intuisi. Sementara Yukari, dengan zodiak Cancer berlambang kepiting, menjadi penyeimbang antara tradisi dan eksplorasi.

Keterlibatan Seniman Asing dalam Soundtoloyo

Selain Yukari Ono, seniman asal Kyoto, Kona Eguchi, juga turut ambil bagian dalam kolaborasi ini. Eguchi, yang dikenal sebagai pelukis, kemudian bereksplorasi dalam seni pertunjukan setelah mendapatkan pengalaman sosial yang unik selama residensi seni di Indonesia.

“Ia menemukan makna gotong royong ketika traktor yang digunakannya dalam pertunjukan rusak di Madura dan diperbaiki bersama-sama oleh penonton. Pengalaman itu memberi perspektif baru tentang relasi sosial di Indonesia,” tutur Toyol.

Penampilan Musik Eksperimental dari Hewodn

Selain Sakana-Kani, pertunjukan juga dimeriahkan oleh musisi instrumental Hewodn, yang dikenal di Tuban dengan karya musik eksperimental berbasis alat musik rakitan sendiri. Dalam kesempatan ini, Hewodn membawakan karya berjudul “Dongo Kanggo Segoro” atau Doa untuk Laut.

Dongo Kanggo Segoro: Penghormatan untuk Laut

Melalui instrumen Noise Box dan Horror Box yang terbuat dari besi daur ulang, Hewodn menghadirkan refleksi doa dan penghormatan terhadap laut sebagai sumber kehidupan.

“Suara yang dihasilkan menggambarkan laut dan keanekaragaman hayati, sekaligus menjadi munajat agar laut tetap memberikan keberkahan bagi umat manusia,” ungkapnya.

Kolaborasi Lintas Musisi di Soundtoloyo

Musisi lain seperti InsyaAllah Noise x Babiteng serta Sandaria juga turut memeriahkan Soundtoloyo melalui kolaborasi bersama Prewangan dan Shankara Institute.

Prewangan dan Shankara Tuban: Ruang Kreatif Kolaboratif

Prewangan adalah wadah terbuka berbasis komunitas yang mengembangkan seni, sains, dan teknologi secara kolaboratif. Sementara Shankara Tuban menjadi ruang temu bagi berbagai seniman dan musisi eksperimental.

Pendiri Shankara Tuban, Fahri, menyampaikan bahwa wadah kreatif ini didedikasikan untuk pengembangan lingkungan dan pendidikan di Tuban, khususnya bagi pemuda Desa Kenanti.

“Kami ingin hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat. Dengan latar belakang yang beragam, kami berharap dapat terus berkolaborasi dengan komunitas dan organisasi lainnya,” ujar Fahri.

Menolak Kebisingan, Menyambut Refleksi

Menurut Fahri, pertunjukan seni ini juga menjadi bentuk penolakan terhadap selebrasi tahun baru yang identik dengan kebisingan.

“Melalui karya, kami ingin menyambut tahun baru dengan semangat refleksi dan kolaborasi. Kami membuka ruang bagi siapa pun yang ingin bergabung dengan berbagai pengalaman dan keahlian,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow