STIE Malangkucecwara Selamatkan Ketahanan Keluarga dari Krisis Sosial
Di tengah kompleksitas persoalan sosial yang semakin meningkat, mulai dari tekanan ekonomi hingga kekerasan dalam rumah tangga, ketahanan keluarga menjadi benteng terakhir yang perlu diselamatkan. STIE Malangkucecwara berkolaborasi dengan Yayasan Sabilillah dan LAZISNU menggelar program pengabdian masyarakat untuk merespons urgensi ini.
Kolaborasi Lintas Sektor Selamatkan Keluarga
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkucecwara bekerja sama dengan Yayasan Sabilillah dan LAZISNU (Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama) mengadakan program pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini menghadirkan pendekatan lintas sektor dengan melibatkan akademisi, komunitas keagamaan, dan legislator dalam forum dialog di Masjid Sabilillah.
Rapuhnya Fondasi Keluarga di Era Modern
Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Hikmah Bafaqih, yang menjadi narasumber utama, menyoroti rapuhnya ketahanan keluarga akibat instabilitas ekonomi, renggangnya relasi sosial, tekanan mental, dan melemahnya nilai spiritual.
Peran Pihak Luar dan Bahaya Materialisme
Hikmah Bafaqih menekankan pentingnya meminta bantuan pihak luar seperti pemerintah, relawan, masjid, atau lembaga zakat untuk menjaga ketahanan keluarga. Ia juga mengingatkan bahaya gaya hidup materialistis yang menjangkiti masyarakat.
“Hidup yang materialistis itu menuntut berat. Di mana orang merasa harus selalu berlomba-lomba dengan lingkungan sekitar. Kalau spiritualnya terhimpit, orang kaya pun masalahnya banyak,” tegas Hikmah.
Kebangkitan Pengasuhan Berbasis Komunitas
Hikmah menyerukan kebangkitan kembali pengasuhan berbasis komunitas, mengajak masyarakat menghidupkan budaya lama di mana anak tetangga dipandang sebagai anak bersama.
“Komunitas seperti masjid, perguruan tinggi, dan ormas itu lebih telaten dalam merawat masalah sosial dibanding hanya mengandalkan pemerintah,” imbuhnya.
Pergeseran Isu dan Validasi Digital
Dosen STIE Malangkucecwara, Sherly Hesti Erawati, menjelaskan bahwa kegiatan ini merespons pergeseran isu di masyarakat. Edukasi kini berfokus pada bullying, kekerasan seksual, dan kecanduan digital.
Ilusi Validasi Digital dan Kekerasan Keluarga
Sherly mengungkapkan bahwa banyak keluarga kelas menengah ke bawah terjebak dalam ilusi validasi digital tanpa literasi memadai. Ia juga menyoroti pola kekerasan dalam keluarga yang semakin acak.
“Mereka ingin validasi lewat HP dan media sosial, tapi kurang edukasi. Akhirnya banyak yang terjerumus,” ujar Sherly kepada beritajatim.com, Senin (29/12/2025).
Sherly menambahkan keprihatinannya terhadap fenomena orang tua yang merasa takut pada anaknya sendiri.
“Rasanya di jero ati koyok diiris-iris (di dalam hati seperti diiris-iris) melihat luka sosial ini,” ungkapnya.
Komitmen STIE Malangkucecwara
Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta, mayoritas jamaah Masjid Sabilillah. STIE Malangkucecwara berkomitmen untuk terus menghadirkan topik edukasi yang relevan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Peran Kampus dan Pendampingan Perilaku
Ketua LPPM STIE Malangkucecwara, Dr. Siti Munfaqiroh, menekankan bahwa peran kampus tidak berhenti di seminar. Ia mencontohkan program pasca-bedah rumah bersama LAZISNU yang mengiringi perubahan fisik rumah dengan pendampingan perilaku hidup sehat.
“Rumahnya sudah diberi jendela, tapi jendelanya tidak pernah dibuka. Banyak kebiasaan lama yang harus didampingi,” jelas Siti.
Tindak Lanjut Program
Dalam dua pekan mendatang, tim STIE Malangkucecwara akan kembali turun ke lapangan untuk memastikan keluarga penerima manfaat, termasuk dhuafa dan anak yatim binaan Zisabilillah, merasakan peningkatan kualitas hidup secara fisik dan mental.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow