Bencana dan Pendidikan: Membangun Sekolah Tangguh di Tengah Risiko Alam

Bencana dan Pendidikan: Membangun Sekolah Tangguh di Tengah Risiko Alam

Smallest Font
Largest Font

Indonesia, negara yang rawan bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, dan tanah longsor, menghadapi tantangan besar dalam membangun sistem pendidikan yang tangguh. Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025, merenggut banyak nyawa dan melumpuhkan kegiatan belajar mengajar.

Realitas Kerentanan dan Dampaknya pada Pendidikan

Indonesia tidak bisa dipisahkan dari dinamika alamnya. Realitas geografis ini menuntut pendekatan pembangunan manusia yang tidak mengabaikan kerentanan terhadap bencana. Bencana yang terjadi bukan hanya merusak infrastruktur, tetapi juga melumpuhkan pendidikan, menyebabkan ratusan ribu anak kehilangan akses belajar. Tragedi ini menjadi peringatan tentang rapuhnya sistem pendidikan saat menghadapi guncangan alam.

Transformasi Fungsi Sekolah Pasca Bencana

Sekolah yang biasanya dianggap sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, berubah menjadi 'pulau penyangga kehidupan' bagi anak-anak pasca bencana. Keberadaan sekolah, bahkan dalam bentuk sederhana seperti tenda darurat, memberikan harapan dan kontinuitas.

Peran Sekolah dalam Menjaga Kestabilan Emosi Anak

Teori ekologi perkembangan manusia dari Urie Bronfenbrenner (1979) menekankan pentingnya lingkungan terdekat, seperti sekolah, dalam menjaga kestabilan emosi anak di tengah kekacauan.

Pelajaran Berharga di Luar Buku Teks

Bencana memberikan pelajaran tentang kesabaran, solidaritas, dan ketangguhan. Anak-anak belajar nilai-nilai ini melalui pengalaman pahit seperti mengantre bantuan atau menghadapi kehilangan. Guru juga mendapatkan 'pelatihan' langsung dalam mendahulukan rasa aman psikologis siswa dan menjadi pendengar yang empatik. Praktik ini merefleksikan gagasan Paulo Freire (1970) bahwa pendidikan adalah praktik memanusiakan manusia.

Keterbatasan Sistem Pendidikan Nasional

Sistem pendidikan nasional dinilai belum cukup lentur dalam merespons realitas bencana. Tekanan untuk menuntaskan kurikulum sering mengabaikan luka psikologis siswa. UNESCO (2017) telah menyerukan integrasi pengurangan risiko bencana (PRB) ke dalam pendidikan berkelanjutan.

Model Sekolah Sadar Bencana: Sukma Bangsa

Sekolah Sukma Bangsa di Pidie, Aceh, yang lahir pasca tsunami 2004, menawarkan model pendidikan kebencanaan yang baik. Kesadaran bencana menjadi bagian dari budaya sekolah. Pemahaman risiko lingkungan, simulasi evakuasi, nilai empati, dan solidaritas sosial diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Respons Cepat dan Efektif Saat Banjir Bandang

Ketika banjir bandang melanda pada akhir 2025, budaya sadar bencana di Sukma Bangsa terbukti efektif. Sekolah dengan cepat memberikan bantuan darurat dan mengorganisasi gerakan relawan yang melibatkan guru dan siswa. Ruang kelas berubah menjadi pusat penggalangan dana dan logistik.

Ketangguhan Bukan Hanya Infrastruktur Fisik

Pendidikan kebencanaan ala Sukma Bangsa menunjukkan bahwa ketangguhan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga budaya dan nilai. Ini tentang membangun komunitas sekolah yang peka, saling percaya, dan siap bertindak kolektif.

Langkah Kebijakan Strategis

Beberapa langkah kebijakan strategis yang perlu didorong adalah:

  1. Integrasi pendidikan kebencanaan ke dalam kurikulum nasional secara kontekstual dan fleksibel.
  2. Memberikan ruang diskresi yang lebih luas bagi guru di daerah terdampak bencana.
  3. Penguatan sekolah sebagai ruang aman dan pusat pemulihan.
  4. Replikasi praktik baik dari sekolah-sekolah yang telah memiliki budaya sadar bencana.

Momentum Koreksi Sistem Pendidikan

Sebagai negara yang rawan bencana, Indonesia harus menjadikan bencana 2025 sebagai momentum koreksi mendasar terhadap sistem pendidikan. Paradigma 'normalitas' harus ditinggalkan dan diganti dengan paradigma yang menempatkan sekolah sebagai ruang multidimensi: pusat ilmu pengetahuan, ruang aman, dan laboratorium hidup untuk menumbuhkan ketangguhan.

Kunci utama adalah integrasi kesadaran bencana, fleksibilitas kurikulum, dan pemberdayaan guru. Dengan fondasi ini, pendidikan akan menjadi solusi saat krisis melanda, membentuk generasi yang tangguh, empatik, dan manusiawi. Ketangguhan yang ditempa di ruang kelas akan menentukan masa depan bangsa.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow