Prabowo Indonesia Bubar dan Tantangan Ketahanan Nasional di Masa Depan

Prabowo Indonesia Bubar dan Tantangan Ketahanan Nasional di Masa Depan

Smallest Font
Largest Font

Pernyataan fenomenal mengenai narasi Prabowo Indonesia bubar pada tahun 2030 sempat menghentak ruang publik beberapa tahun silam. Ucapan yang bermula dari sebuah unggahan video di media sosial partai Gerindra tersebut memicu debat panas di kalangan akademisi, politisi, hingga masyarakat awam. Meski banyak yang menganggapnya sebagai bentuk pesimisme, dalam kacamata strategis, pernyataan tersebut sebenarnya merupakan sebuah strategic warning atau peringatan dini terhadap berbagai kerentanan yang mungkin dihadapi bangsa ini di masa depan.

Narasi tersebut merujuk pada sebuah karya fiksi ilmiah militer berjudul Ghost Fleet yang ditulis oleh Peter Warren Singer dan August Cole. Buku ini menggambarkan skenario perang dunia masa depan di mana posisi geopolitik negara-negara berkembang menjadi sangat rentan jika tidak memiliki kemandirian industri pertahanan dan stabilitas internal yang kuat. Membedah konteks Prabowo Indonesia bubar memerlukan objektivitas untuk melihat sejauh mana kekuatan nasional kita dalam menghadapi pergeseran kekuatan global yang semakin tidak terprediksi.

Buku Ghost Fleet yang menjadi referensi pidato Prabowo
Buku Ghost Fleet karya P.W. Singer dan August Cole yang menjadi landasan diskursus mengenai masa depan Indonesia.

Akar Pemikiran dan Konteks Novel Ghost Fleet

Untuk memahami mengapa isu Prabowo Indonesia bubar menjadi begitu viral, kita harus menengok isi dari novel Ghost Fleet. Novel ini sebenarnya bukan sebuah ramalan klenik, melainkan sebuah skenario techno-thriller yang disusun berdasarkan riset mendalam mengenai tren teknologi militer, perang siber, dan pergeseran hegemoni dari Barat ke Timur. Dalam cerita tersebut, Indonesia digambarkan mengalami disintegrasi akibat konflik internal dan kegagalan dalam menjaga kedaulatan di tengah perang antara China, Rusia, dan Amerika Serikat.

Prabowo Subianto, yang memiliki latar belakang militer kuat, menggunakan referensi ini untuk menekankan pentingnya E-E-A-T (Expertise, Experience, Authoritativeness, Trustworthiness) dalam mengelola negara. Bagi beliau, sebuah negara besar tanpa pertahanan yang kuat dan persatuan nasional yang solid adalah resep bagi kehancuran. Peringatan tersebut ditujukan agar elit politik dan masyarakat tidak terlena dengan zona nyaman dan mulai memikirkan penguatan fondasi bangsa secara serius.

Mengapa Narasi Ini Muncul di Ruang Publik?

Ada beberapa alasan mengapa narasi ini sengaja dilemparkan ke publik saat itu. Pertama, sebagai bentuk kritik terhadap pengelolaan sumber daya alam yang dianggap lebih banyak dinikmati pihak asing. Kedua, untuk menyoroti ketimpangan ekonomi yang jika dibiarkan dapat memicu disintegrasi sosial. Ketiga, sebagai seruan untuk modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI yang saat itu dinilai tertinggal dibandingkan negara tetangga.

Analisis Indikator Ketahanan Nasional Indonesia

Untuk memvalidasi apakah kekhawatiran mengenai Prabowo Indonesia bubar memiliki landasan empiris, kita perlu melihat berbagai indikator ketahanan nasional. Ketahanan sebuah negara tidak hanya diukur dari jumlah tank atau jet tempur, tetapi juga dari stabilitas ekonomi, kedaulatan pangan, dan persatuan sosial. Berikut adalah perbandingan beberapa metrik penting yang menentukan masa depan sebuah negara:

  • Stabilitas Sosial
  • Aspek Ketahanan Kondisi Ideal Tantangan Indonesia Saat Ini
    Kedaulatan Pangan Mandiri dan Swasembada penuh Ketergantungan impor komoditas pokok
    Pertahanan Militer Minimum Essential Force (MEF) 100% Proses modernisasi alutsista yang berkelanjutan
    Minim konflik horizontal dan radikalisme Polarisasi politik dan isu SARA
    Kemandirian Ekonomi Hilirisasi industri dan penguasaan teknologi Transisi dari ekonomi ekstraktif ke manufaktur

    Data di atas menunjukkan bahwa tantangan yang disebutkan dalam narasi Prabowo Indonesia bubar bukanlah isapan jempol semata jika kita tidak melakukan perbaikan signifikan. Namun, pemerintah Indonesia telah merespons hal ini dengan berbagai kebijakan strategis, seperti percepatan hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi dan penguatan diplomasi pertahanan di kancah internasional.

    Modernisasi alutsista TNI untuk ketahanan nasional
    Peningkatan anggaran dan modernisasi alutsista menjadi kunci untuk menangkal skenario disintegrasi bangsa.

    Geopolitik Global dan Posisi Strategis Indonesia

    Dunia saat ini sedang berada dalam fase multipolaritas. Persaingan antara kekuatan besar di Laut Natuna Utara (Laut China Selatan) menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat krusial. Dalam pidatonya, Prabowo Subianto sering mengingatkan bahwa kekayaan alam Indonesia selalu menjadi incaran kekuatan luar. Sejarah kolonialisme membuktikan bahwa perpecahan internal seringkali menjadi pintu masuk bagi intervensi asing.

    Ketahanan nasional harus dibangun melalui konsep Total Defence System atau Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Ini berarti pertahanan bukan hanya tugas TNI, tetapi melibatkan seluruh elemen bangsa. Keamanan siber, ketahanan energi, dan kedaulatan digital menjadi medan tempur baru yang jauh lebih kompleks dibandingkan era konvensional yang digambarkan dalam Ghost Fleet.

    Peran Kepemimpinan Nasional dalam Menjaga Persatuan

    Kepemimpinan yang kuat diperlukan untuk menyatukan ribuan pulau dan keberagaman budaya. Disintegrasi biasanya dimulai dari hilangnya kepercayaan publik terhadap institusi negara. Oleh karena itu, penegakan hukum yang adil dan pemberantasan korupsi adalah kunci utama untuk memastikan rakyat tetap setia pada panji NKRI. Pernyataan Prabowo Indonesia bubar harus dilihat sebagai pelecut semangat untuk memperkuat integritas nasional.

    Peta posisi strategis Indonesia di kawasan Indo-Pasifik
    Posisi geografis Indonesia di antara dua samudera dan dua benua menjadikannya poros maritim dunia sekaligus titik rawan konflik.

    Membangun Optimisme di Tengah Ancaman Global

    Meskipun narasi tersebut terdengar kelam, realitas menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu dari lima kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2045. Syarat utamanya adalah stabilitas politik dan konsistensi kebijakan. Kita tidak boleh terjebak dalam perdebatan tanpa arah, melainkan harus fokus pada penguatan SDM dan penguasaan teknologi mutakhir.

    "Sebuah bangsa tidak akan pernah hancur selama rakyatnya memiliki semangat untuk bersatu dan pemimpinnya memiliki visi untuk melindungi segenap tumpah darahnya."

    Langkah-langkah strategis seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai simbol pemerataan pembangunan, serta penguatan aliansi regional melalui ASEAN, adalah bentuk nyata dari upaya mematahkan prediksi negatif mengenai masa depan Indonesia. Ketahanan nasional adalah kerja kolektif yang berkelanjutan, bukan sekadar janji politik sesaat.

    Menakar Relevansi Peringatan Strategis di Masa Kini

    Pada akhirnya, apakah prediksi mengenai Prabowo Indonesia bubar masih relevan untuk didiskusikan hari ini? Jawabannya adalah ya, namun bukan sebagai ramalan kegagalan, melainkan sebagai pengingat akan pentingnya kewaspadaan nasional. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim, dan potensi konflik bersenjata di berbagai belahan dunia, Indonesia harus terus berbenah diri.

    Rekomendasi utama bagi pemerintah dan masyarakat adalah memperkuat literasi geopolitik dan kesadaran bela negara. Kita perlu memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil senantiasa berorientasi pada kepentingan nasional jangka panjang. Dengan memperkuat fondasi ekonomi, sosial, dan militer, kita dapat memastikan bahwa narasi Prabowo Indonesia bubar hanyalah sebuah skenario fiksi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan di tanah air tercinta.

    Editors Team
    Daisy Floren

    What's Your Reaction?

    • Like
      0
      Like
    • Dislike
      0
      Dislike
    • Funny
      0
      Funny
    • Angry
      0
      Angry
    • Sad
      0
      Sad
    • Wow
      0
      Wow