Kisah Prabowo Subianto dan Perjalanan Panjang Menuju Kursi Presiden

Kisah Prabowo Subianto dan Perjalanan Panjang Menuju Kursi Presiden

Smallest Font
Largest Font

Kisah Prabowo Subianto merupakan narasi tentang keteguhan, kontroversi, dan transformasi yang jarang ditemukan dalam sejarah politik Indonesia modern. Sebagai putra dari salah satu begawan ekonomi paling berpengaruh di tanah air, Soemitro Djojohadikusumo, garis hidup Prabowo seolah sudah ditakdirkan untuk berada di pusat pusaran kekuasaan. Namun, jalan yang ia tempuh jauh dari kata mudah, melibatkan dekade pengabdian di medan tempur hingga jatuh bangun di panggung demokrasi.

Memahami sosoknya memerlukan kacamata yang objektif, melihat melampaui retorika kampanye guna menemukan esensi dari perjalanan seorang prajurit yang akhirnya memilih jalan politik untuk mengabdi. Dari masa pengasingan di luar negeri saat kecil hingga menjadi Menteri Pertahanan di bawah kepemimpinan rival politiknya, Joko Widodo, setiap babak dalam hidupnya menawarkan pelajaran berharga tentang resiliensi dan adaptabilitas kepemimpinan.

Akar Keluarga dan Masa Kecil di Mancanegara

Latar belakang keluarga memainkan peran krusial dalam membentuk intelektualitas dan pandangan dunia Prabowo. Lahir pada 17 Oktober 1951, ia tumbuh dalam lingkungan yang sangat kental dengan nuansa akademik dan politik. Ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo, adalah tokoh kunci dalam pemerintahan Indonesia awal, sementara kakeknya, Margono Djojohadikusumo, merupakan pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) dan ketua DPAS pertama.

Karena situasi politik yang memanas pada era Orde Lama, Prabowo menghabiskan masa sekolahnya berpindah-pindah negara, mulai dari Singapura, Malaysia, Hong Kong, Swiss, hingga Inggris. Pengalaman internasional ini membuatnya fasih berbahasa asing dan memiliki perspektif global yang luas, sebuah aset yang nantinya sangat berguna dalam diplomasi pertahanan dan politik internasional.

PeriodeLokasi Sekolah/PendidikanKeterangan
1960-anBritish Elementary School, SingapuraPendidikan dasar di luar negeri
1966-1968American School in LondonMenyelesaikan jenjang sekolah menengah
1970-1974Akademi Militer (AKABRI)Lulus sebagai perwira muda di Magelang

Meskipun memiliki kesempatan untuk mengejar karier akademik di luar negeri, Prabowo memilih untuk kembali ke Indonesia dan masuk ke Akademi Militer di Magelang. Keputusan ini menandai dimulainya babak baru yang penuh tantangan di dunia militer, sebuah profesi yang membentuk disiplin dan loyalitasnya terhadap negara.

Jejak Pengabdian di Dunia Militer dan Pasukan Khusus

Karier militer Prabowo Subianto sering kali digambarkan sebagai salah satu yang paling cemerlang namun juga paling banyak diperdebatkan. Ia bergabung dengan Korps Baret Merah atau Kopassus, sebuah satuan elit yang menuntut kemampuan fisik dan mental di atas rata-rata. Keberaniannya di medan tempur, terutama dalam operasi di Timor Timur, membuatnya cepat naik pangkat dan disegani oleh rekan sejawat maupun atasan.

Puncak karier militernya terjadi saat ia menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus (Danjen Kopassus) dan kemudian Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Di bawah kepemimpinannya, Kopassus meraih berbagai prestasi internasional, termasuk keberhasilan dalam Operasi Mapenduma untuk membebaskan peneliti asing yang disandera oleh OPM pada tahun 1996.

Prabowo Subianto dengan seragam Kopassus
Prabowo Subianto saat menjabat sebagai perwira tinggi di satuan elit Kopassus.

Namun, transisi kekuasaan pada tahun 1998 membawa perubahan drastis. Peristiwa kerusuhan Mei dan dinamika politik di internal militer memaksa Prabowo untuk mengakhiri karier militernya secara prematur. Meskipun harus meninggalkan seragam yang ia banggakan, semangatnya untuk berkontribusi bagi bangsa tidak pernah padam, meski ia sempat memilih untuk menepi sejenak ke luar negeri guna membangun bisnis di Yordania dan Jerman.

Kebangkitan Melalui Jalur Politik dan Pendirian Gerindra

Setelah beberapa tahun fokus di dunia bisnis, Prabowo kembali ke tanah air dengan visi baru: memperbaiki kondisi bangsa melalui jalur demokrasi. Ia menyadari bahwa kebijakan publik hanya bisa diubah melalui kekuasaan politik yang sah. Pada tahun 2008, ia mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya atau Gerindra, sebuah partai yang mengusung nilai-nilai nasionalisme, kerakyatan, dan kemandirian ekonomi.

  • 2009: Maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri.
  • 2014: Maju sebagai calon presiden berpasangan dengan Hatta Rajasa, namun kalah tipis.
  • 2019: Kembali maju sebagai calon presiden berpasangan dengan Sandiaga Uno, menghadapi Joko Widodo.
  • 2024: Memenangkan pemilihan presiden secara mutlak bersama Gibran Rakabuming Raka.

Ketekunan Prabowo dalam mengikuti setiap kontestasi politik menunjukkan karakter seorang petarung yang tidak mudah menyerah. Meskipun mengalami kekalahan berkali-kali, ia tetap konsisten membangun partainya hingga Gerindra menjadi salah satu partai terbesar di Indonesia. Transformasi gaya komunikasinya dari yang semula cenderung agresif menjadi lebih moderat dan merangkul (gemoy) terbukti efektif menarik simpati pemilih muda (Gen Z dan Milenial).

Rekonsiliasi Nasional dan Amanat Menteri Pertahanan

Momen yang paling mengejutkan dalam perjalanan politik Prabowo adalah keputusannya untuk bergabung dalam kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo pada tahun 2019. Keputusan ini sempat menuai pro dan kontra dari para pendukung fanatiknya. Namun, Prabowo menegaskan bahwa keputusannya didasari oleh keinginan untuk melakukan rekonsiliasi nasional demi persatuan bangsa di tengah ancaman polarisasi.

"Persatuan adalah kunci utama bagi Indonesia untuk menjadi negara maju. Tidak ada gunanya kita bertikai jika itu hanya akan melemahkan bangsa kita sendiri di mata dunia." - Prabowo Subianto.

Sebagai Menteri Pertahanan, Prabowo dikenal sangat aktif dalam modernisasi alutsista TNI. Ia melakukan berbagai kunjungan diplomasi ke negara-negara produsen senjata utama seperti Prancis, Amerika Serikat, dan Qatar. Pembelian jet tempur Rafale serta pengembangan industri pertahanan dalam negeri melalui PT Pindad menjadi bukti nyata dari keseriusannya dalam menjaga kedaulatan negara.

Prabowo Subianto dalam pertemuan diplomasi pertahanan
Prabowo Subianto saat menjalankan tugas sebagai Menteri Pertahanan RI dalam forum internasional.

Kemenangan Pilpres 2024 dan Visi Indonesia Emas

Kemenangan Prabowo dalam Pilpres 2024 merupakan akumulasi dari pengalaman puluhan tahun dan strategi politik yang matang. Dengan mengusung narasi keberlanjutan dari program-program Presiden Jokowi, ia berhasil meyakinkan mayoritas rakyat Indonesia bahwa ia adalah sosok yang tepat untuk memimpin transisi menuju Indonesia Emas 2045. Program-program seperti makan siang gratis untuk anak sekolah dan hilirisasi industri menjadi jualan utamanya yang menyentuh akar rumput.

Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka
Pasangan Prabowo-Gibran saat merayakan keunggulan dalam hitung cepat Pilpres 2024.

Menakar Masa Depan Kepemimpinan Nasional

Memasuki era kepemimpinannya sebagai Presiden RI ke-8, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Geopolitik global yang tidak menentu, ancaman perubahan iklim, serta perlunya akselerasi ekonomi pasca-pandemi menuntut kebijakan yang cepat dan tepat. Fokus pada kedaulatan pangan dan energi diprediksi akan menjadi pilar utama dalam pemerintahan Prabowo mendatang, sejalan dengan visi besarnya tentang Indonesia yang mandiri dan bermartabat.

Publik kini menanti bagaimana realisasi dari janji-janji kampanye yang telah diucapkan. Apakah gaya kepemimpinan tegas militernya akan tetap dominan, ataukah ia akan lebih mengedepankan pendekatan diplomasi kolektif? Satu hal yang pasti, kisah Prabowo Subianto telah mengajarkan kita bahwa dalam politik, lawan bisa menjadi kawan, dan kegagalan hanyalah sebuah jeda menuju kemenangan yang lebih besar selama konsistensi dan cinta pada tanah air tetap menjadi kompas utama.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow