Bapak nya Prabowo Subianto dan Jejak Historis Sumitro Djojohadikusumo

Bapak nya Prabowo Subianto dan Jejak Historis Sumitro Djojohadikusumo

Smallest Font
Largest Font

Sosok bapak nya Prabowo Subianto, yaitu Profesor Dr. Sumitro Djojohadikusumo, bukanlah nama sembarangan dalam lembaran sejarah Republik Indonesia. Beliau dikenal secara luas sebagai "Begawan Ekonomi Indonesia" berkat kontribusi pemikirannya yang sangat fundamental dalam membangun fondasi ekonomi nasional pasca-kemerdekaan. Bagi masyarakat luas yang hanya mengenal Prabowo sebagai tokoh militer dan politik, menggali riwayat sang ayah akan memberikan perspektif baru tentang dari mana akar intelektualitas dan disiplin keras keluarga Djojohadikusumo berasal.

Sebagai seorang teknokrat yang cerdas, Sumitro telah melanglang buana di kancah internasional sejak usia muda. Ia adalah salah satu putra terbaik bangsa yang mendapatkan pendidikan tinggi di Eropa, sebuah kemewahan yang sangat langka bagi warga pribumi pada masa kolonial. Namun, gelar dan pengetahuan tersebut tidak ia simpan sendiri, melainkan ia dedikasikan sepenuhnya untuk merumuskan kebijakan-kebijakan ekonomi yang bertujuan membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu kemiskinan dan keterbelakangan struktural.

Sumitro Djojohadikusumo saat masih muda sebagai delegasi internasional
Sumitro Djojohadikusumo saat aktif mewakili kepentingan ekonomi Indonesia di kancah global.

Profil Singkat Sumitro Djojohadikusumo Sang Begawan Ekonomi

Lahir di Kebumen pada 29 Mei 1917, Sumitro merupakan putra dari Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia (BNI). Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan lingkungan yang mengedepankan pendidikan dan nasionalisme. Riwayat pendidikannya mencakup studi di Sekolah Tinggi Ekonomi di Rotterdam, Belanda, di mana ia menyerap pemikiran-pemikiran ekonomi modern yang kemudian ia adaptasikan dengan kondisi lokal Indonesia.

Keistimewaan bapak nya Prabowo ini terletak pada kemampuannya menyatukan teori ekonomi Barat dengan realitas sosial di tanah air. Ia percaya bahwa kemerdekaan politik harus dibarengi dengan kedaulatan ekonomi. Tanpa kemandirian dalam mengelola sumber daya, sebuah negara baru akan tetap terjebak dalam neo-kolonialisme. Oleh karena itu, ia selalu menekankan pentingnya pembangunan industri nasional dan penguatan kelas menengah pribumi.

"Pembangunan ekonomi bukan hanya soal angka pertumbuhan, melainkan tentang martabat manusia dan distribusi keadilan bagi seluruh rakyat." - Prof. Sumitro Djojohadikusumo.

Dalam perjalanan hidupnya, Sumitro tidak hanya menjadi akademisi di Universitas Indonesia, tetapi juga terjun langsung ke pemerintahan. Ia menjabat sebagai menteri di beberapa kabinet berbeda, mulai dari era Soekarno hingga era Soeharto. Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa keahliannya diakui melampaui sekat-sekat ideologi politik sesaat.

Jejak Karier dan Jabatan Penting dalam Pemerintahan

Sumitro Djojohadikusumo memiliki rekam jejak yang sangat panjang dalam struktur pemerintahan Indonesia. Ia adalah tipikal pemimpin yang berani mengambil risiko demi prinsip yang diyakininya benar. Ketegasannya dalam mengelola keuangan negara membuatnya sering dijuluki sebagai penjaga gawang ekonomi yang tangguh. Berikut adalah beberapa jabatan penting yang pernah diemban oleh bapak nya Prabowo selama masa pengabdiannya:

JabatanMasa JabatanKabinet / Era
Menteri Perdagangan dan Perindustrian1950 - 1951Kabinet Natsir
Menteri Keuangan1952 - 1953Kabinet Wilopo
Menteri Keuangan1955 - 1956Kabinet Burhanuddin Harahap
Menteri Perdagangan1968 - 1973Kabinet Pembangunan I (Orde Baru)
Menteri Riset1973 - 1978Kabinet Pembangunan II (Orde Baru)

Selama menjabat sebagai Menteri Keuangan, Sumitro dikenal sangat disiplin dalam menjaga anggaran belanja negara. Ia memperkenalkan program-program pemberdayaan pengusaha lokal yang dikenal dengan Program Benteng. Meskipun program ini menghadapi banyak tantangan, semangatnya untuk menciptakan kelas pengusaha nasional menjadi inspirasi bagi generasi-generasi ekonomi setelahnya.

Keterlibatannya dalam pemerintahan Orde Baru juga sangat signifikan. Ia menjadi salah satu arsitek utama yang menyelamatkan ekonomi Indonesia dari inflasi gila-gilaan pada akhir era 1960-an. Melalui pendekatan yang sistematis dan dukungan dari tim ahli yang kemudian dikenal sebagai "Mafia Berkeley" (meskipun Sumitro memiliki pendekatan yang sedikit berbeda), Indonesia berhasil mencapai stabilitas makroekonomi yang cukup lama.

Prabowo Subianto bersama sang ayah Sumitro Djojohadikusumo
Potret hangat Prabowo Subianto bersama ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, dalam sebuah kesempatan formal.

Hubungan Ayah dan Anak: Pengaruh Sumitro Terhadap Prabowo

Sebagai seorang ayah, Sumitro Djojohadikusumo dikenal sebagai figur yang sangat menuntut dalam hal intelektualitas. Prabowo Subianto sering menceritakan bagaimana suasana di meja makan keluarga mereka selalu diisi dengan diskusi-diskusi berat mengenai politik, ekonomi, dan sejarah dunia. Hal ini membentuk karakter Prabowo menjadi sosok yang gemar membaca dan memiliki wawasan geopolitik yang luas.

Namun, hubungan ini tidak selalu berjalan mulus secara politik. Sumitro pernah terlibat dalam gerakan PRRI/Permesta yang membuatnya harus membawa keluarganya hidup dalam pengasingan di luar negeri selama bertahun-tahun. Masa-masa tinggal di luar negeri inilah yang membuat Prabowo mahir berbahasa asing dan memiliki pergaulan internasional yang luas. Pengalaman hidup sebagai eksil politik memberikan ketangguhan mental bagi anak-anak Sumitro, termasuk Prabowo dan adiknya, Hashim Djojohadikusumo.

  • Intelektualitas: Menanamkan kebiasaan membaca buku-buku berat sejak dini.
  • Nasionalisme: Mengajarkan bahwa meskipun berada di luar negeri, cinta pada Indonesia adalah harga mati.
  • Keberanian Politik: Mencontohkan bahwa menyuarakan kebenaran seringkali memiliki konsekuensi berat.
  • Jaringan Global: Membuka akses komunikasi dengan tokoh-tokoh penting dunia.

Ketegasan Sumitro dalam mendidik anak-anaknya tercermin dari bagaimana Prabowo memilih jalur militer. Meskipun sang ayah adalah seorang profesor, Prabowo justru masuk ke AKABRI untuk menunjukkan dedikasinya pada negara melalui jalur pengabdian fisik dan komando. Ini adalah bentuk sintesis antara kecerdasan otak sang ayah dan keberanian lapangan yang dipilih sang anak.

Pemikiran Ekonomi Sumitro yang Membentuk Struktur Indonesia

Kontribusi terbesar bapak nya Prabowo ini sebenarnya terletak pada tulisan-tulisannya. Sumitro adalah penulis yang produktif. Buku-bukunya menjadi rujukan wajib bagi mahasiswa ekonomi di seluruh Indonesia. Ia selalu menekankan pentingnya kaitan antara kebijakan fiskal dan kesejahteraan sosial. Baginya, angka pertumbuhan ekonomi tidak ada artinya jika jurang antara kaya dan miskin terus melebar.

Ia juga sangat peduli pada pengembangan riset dan teknologi. Saat menjabat sebagai Menteri Riset, ia menekankan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kemampuan kita menguasai teknologi modern. Visi ini kemudian diteruskan dan diperluas oleh tokoh-tokoh seperti B.J. Habibie. Sumitro selalu berargumen bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk asing, melainkan harus mampu memproduksi kebutuhan sendiri.

Dalam banyak hal, pemikiran ekonomi Prabowo Subianto yang sering digaungkan saat ini, seperti swasembada pangan dan energi, sebenarnya adalah resonansi dari pemikiran lama sang ayah. Ada kesinambungan ideologis yang sangat kuat di sini. Konsep ekonomi kerakyatan yang sering dibawa dalam manifesto politik Prabowo memiliki akar kuat pada nasionalisme ekonomi yang diajarkan oleh Sumitro sejak dekade 1950-an.

Buku-buku karya Prof. Sumitro Djojohadikusumo tentang ekonomi
Deretan karya tulis Sumitro Djojohadikusumo yang hingga kini masih menjadi referensi akademis.

Warisan Intelektual yang Tetap Relevan Hingga Kini

Memahami sosok bapak nya Prabowo adalah memahami salah satu pilar intelektual bangsa Indonesia. Sumitro Djojohadikusumo bukan hanya sekadar nama dalam buku sejarah, melainkan simbol dari dedikasi seorang intelektual yang mau turun tangan menghadapi kerumitan masalah negara. Ia meninggalkan warisan berupa institusi pendidikan yang kuat (FEUI), kebijakan ekonomi yang strategis, serta generasi penerus yang aktif dalam dinamika nasional.

Bagi generasi muda, mempelajari riwayat hidup Sumitro memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya integritas dan penguasaan ilmu pengetahuan. Di tengah arus globalisasi yang semakin kencang, pemikiran Sumitro tentang perlindungan kepentingan nasional tetap menemukan relevansinya. Ia mengajarkan bahwa untuk menjadi bangsa yang besar, kita harus memiliki harga diri secara ekonomi dan kecerdasan dalam bernegosiasi di panggung dunia.

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bahwa bapak nya Prabowo adalah salah satu raksasa yang bahunya dipijak oleh generasi-generasi setelahnya untuk melihat masa depan Indonesia yang lebih cerah. Baik dalam kapasitasnya sebagai ekonom, pendidik, maupun kepala keluarga, Sumitro Djojohadikusumo telah memberikan standar yang sangat tinggi bagi siapapun yang ingin mengabdi pada negara ini dengan ketulusan dan kecerdasan yang mendalam.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow